Apa Itu Chorioamnionitis Pada Kehamilan ? Apa Membahayakan Bagi Pertumbuhan Janin?

Apa Itu Chorioamnionitis Pada Kehamilan Apa Membahayakan Bagi Pertumbuhan Janin

Ada banyak artikel kesehatan untuk para ibu hamil baca demi menjaga pertumbuhan sang buah hati agar sehat dan terjaga. Banyak juga hal yang dilakukan ibu hamil untuk menjaga kesehatannya seperti pola makan yang teratur dan asupan yang cukup serta pola hidup yang sehat seperti berolahraga santai dipagi hari lalu menjaga kebersihan rumah. Setidaknya dengan cara seperti ini, berbagai infeksi terhindar dari tubuh kita, salah satunya penyakit choroammnionitis pada kehamilan yang akan kita bahas kali ini.

Choroammnionitis merupakan infeksi pada korion dan amnion. Infeksi ini berhubungan langsung dengan plasenta yang menjadi pelindung penting selama janin masih berada didalam kandungan sang ibu.  Choroammnionitis merupakan infeksi yang dapat menyusup melalui pembuluh plasenta yang akan mengganggu janin. Penyebabnya adalah bakteri seperti E coli dan grup B streptococci. Bagi ibu hamil yang memiliki riwayat kantung ketuban pecah sebelum waktunya akan meningkatkan resiko choroammnionitis.

Gejala yang ditimbulkan oleh choroammnionitis ini adalah seringkali sang ibu mengalami demam serta detak jantung yang memburuk. Bukan hanya perubahan pada detak jantung sang ibu melainkan akan berpengaruh pada detak jantung dari si janin yang berada dalam kandungan. Para ibu hamil pun  akan mengeluh sakit pada Rahim dan merembes pada cairan plasenta yang  akan menjadikannya bau buruk. Namun, apabila plasenta tidak pecah maka akan dilakukan pemeriksaan segera untuk mengetahui apakah ada kelainan pada janin tersebut. penyakit dari choroammnionitis beragam, mulai dari pola hidup yang tidak sehat seperti minum alcohol dan merokok, persalinan premature, serta  ketuban pecah yang lama akan meningkatkan resiko terkena penyakit ini. Penyebab dari choroammnionitis adalah kelahiran bayi yang premature, menimbulkan dampak sakit dan kematian perinatal, serta kesehatan bagi ibu hamil itu sendiri.

Jika anda terkena penyakit tersebut, penanganannya dapat dilakukan dengan merujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas yang lengkap khususnya bagi ibu hamil, nanti dokter tersebut akan memberikan obat antibiotic dan terminasi kehamilan. Baik pada serviks yang matang dilakukan dengan induksi persalinan dengan oksitosin atau apabila serviks belum matang bisa menggunakan prostaglandin dan infus oksitosin. Apabila dilakukan persalinan pervaginam maka antibiotic setelah persalinan akan berhenti dikonsumsi. Kondisi dari ibu janin juga sangat menentukan berhasil tidaknya tindakan medis. Akan lebih baik jika melakukan pemeriksaan diawal sehingga akan mudah dalam pencegahannya. Semoga artikel ini membantu ya dan tetap sehat selalu untuk kesehatan bayi anda.

Reply