Seputar Asam Urat Pada Ibu Hamil

Penyakit asam urat bisa dialami oleh siapa saja. Hal ini ditandai dengan tingginya kadar asam urat didalam tubuh. Jika asam urat terjadi pada ibu hamil, maka ia bisa meningkatkan resiko terkena hipertensi gestational serta diabetes pada masa kehamilan. Kadar asam urat pada ibu hamil normalnya berada di angka 3.5-6 mg/dl. Jika melebihi batas normal, maka berarti mengalami penyakit kelebihan asam urat. Gejala yang timbul ketika asam urat tinggi ialah persendian bengkak, merah, terasa nyeri, serta panas.

 

Bahayakah Jika Ibu Hamil Mengalami Asam Urat Tinggi?

Jika kadar asam urat ibu hamil tinggi, maka akan timbul beberapa resiko gangguan kesehatan bahkan komplikasi. Preeklamesia dan diabetes gestational bisa mengancam ibu hamil. Ketika preeklamesia terjadi, maka ibu hamil mengalami hipertensi dan ini bisa merusak sistem organ seperti ginjal. Sedangkan diabetes gestational merupakan kondisi dimana tubuh tidak mampu memproduksi atau menggunakan hormon insulin dengan benar. Sehingga gula darah mengalami kenaikan drastis dan tentu saja ini membahayakan ibu serta janin yang dikandung.

 

Sebenarnya ibu hamil justru memiliki resiko yang rendah untuk terkena penyakit asam urat karena saat hamil produksi hormon estrogen meningkat dan membantu ibu melindungi diri dari resiko penyakit asam urat. Namun jika ibu hamil menderita diabetes gestational maka kemungkinan besar bisa menyebabkan kadar asam urat yang tinggi. Jadi antara kadar asam urat dengan diabetes gestational (diabetes yang terjadi hanya pada masa kehamilan) memang saling berkaitan.

 

Berikut adalah resiko gangguan kesehatan yang bisa menganggu kenyamanan ibu hamil serta tumbuh kembang janin:

Melemahnya otot

Saat kadar asam urat terlalu tinggi, maka otot akan menjadi lemah. Tentu ini dapat mengganggu ibu yang sedang mengandung karena pada masa ini, ibu hamil membutuhkan otot-otot yang kuat untuk menopang pertumbuhan bayi. Terlebih saat hamil sering terjadi kontraksi yang membutuhkan tubuh serta otot yang kuat untuk menahannya.

 

Masalah ginjal

Ginjal yang sehat diperlukan tubuh agar bisa mengeluarkan zat-zat yang berbahaya termasuk asam urat berlebih. Jika kadar asam urat tidak terkontrol selama masa kehamilan, maka ia bisa memperberat kinerja ginjal. Padahal ginjal sangat vital untuk tubuh mengeluarkan racun dari tubuh ibu maupun janin. Ginjal juga penting untuk menjaga nutrisi bayi agar tetap seimbang.

 

Mengganggu gerak ibu

Saat hamil, wanita cenderung lebih sulit untuk bergerak bebas. Hal ini akan semakin parah jika kadar asam urat pada ibu hamil terlampau tinggi karena bisa membuat tubuh sulit untuk berkoordinasi dengan baik dan menghambat gerak. Tubuh ibu hamil akan kesulitan untuk menopang bobot bayi sehingga bisa membahayakan kondisi ibu dan bayi itu sendiri.

 

Menganggu psikologis ibu hamil

Kadar asam urat yang tinggi pada tubuh menimbulkan berbagai gejala yang menganggu kenyaman dan kesehatan ibu hamil. Rasa sakit di persendian yang terjadi secara terus menerus dan akut bisa membuat psikologis ibu hamil terganggu dan tidak jarang menjadi stress. Kondisi ibu hamil yang stres bisa menganggu tumbuh kembang bayi.

 

Jika ibu hamil terlanjur menderita asam urat tinggi, maka bisa dilakukan beberapa upaya untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan. Gejala-gejala asam urat tinggi tentu saja dapat menganggu kenyamanan ibu hamil. Berikut beberapa tipsnya:

  • Perbanyak konsumsi air putih.
  • Hindari konsumsi alkohol dan rokok secara total.
  • Menghindari makanan pemicu naiknya kadar asam urat seperti makanan laut (cumi, udang, kerang, dll), kornet, daging, kambing, emping, melinjo.
  • Kurangi makanan yang dapat memproduksi zat purin seperti sayuran berdaun hijau tua.
  • Perbanyak konsumsi makanan yang mengandung potassium seperti kentang, yoghurt, wortel, pisang.
  • Konsumsi buah-buahan tinggi vitamin C.

 

Maka penting bagi calon ibu yang ingin memasuki program kehamilan untuk memeriksaan kesehatan secara menyeluruh untuk meminimalisir resiko gangguan kesehatan saat proses kehamilan. Namun jika asam urat pada ibu hamil sudah terlanjur tinggi, maka bisa melakukan pengobatan yang sesuai dengan anjuran dokter agar kesehatan ibu hamil bisa terjaga dan tumbuh kembang bayi pun bisa tetap optimal.

Reply